Adab Menziarahi Orang Sakit
Sunat menziarahinya secara berselang hari.
Makruh jika tinggal terlalu lama dan menyusahkan si pesakit serta keluarganya.
Sunat duduk dekat dengan kepala si pesakit.
Sunat membaca doa dan mengucapkan kata-kata yang disenangi oleh si pesakit.
Sunat mengampunkan setiap kesalahan pesakit sekiranya ia ada membuat kesalahan dengan kita.
Membawa apa-apa buah tangan yang patut bagi meringankan bebannya dan juga keluarganya.
Rabu, 6 Julai 2011
Adab Membaca Al-Quran
Adab Membaca Al-Quran
Membersihkan badan dan pakaian serta mengambil wuduk. Mengambil dan mengangkat Al-Quran dengan tangan kanan.
Membaca Al-Quran di tempat yang bersih seperti di rumah, surau, masjid dan sebagainya. Yang paling utama adalah di masjid.
Menghadap ke kiblat, membacanya dengan khusyuk dan tenang.
Membersihkan mulut dari sisa-sisa makanan dan bau.
Memlakan bacaan dengan membaca "aku berlindung dengan nama allah dari syaitan yang direjam", kemudian disusuli dengan "bismillah" serta membaca ummul kitab (fatihah).
Membacanya dengan tertib, bacaan yang perlahan-lahan dan tenang.
Membaca dengan penuh perhatian dan memikirkan tentang ayat-ayat yang dibaca serta cuba memahami maksudnya.
Bacaannya hendaklah benar-benar diresapkan ke dalam hati, terutama pada ayat-ayat yang mengambarkan tentang nasib orang-orang yang berdosa serta yang melanggar perintah allah.
Membaca dengan suara yang indah lagi merdu.
Tidak diselang seli dengan perbualan, bermain-main atau ketawa. Hendaklah diteruskan atau disempurnakan bacaan sampai ke ayat yang ditentukan barulah disudahkan.
Adab Berjiran
Adab berjiran
· Dikira jiran itu bermula dari 40 buah rumah kehadapan, belakang, kiri dan kanan.
· Mendahulukan memberi salam bila bertemu.
· Tidak terlalu banyak bertanya akan hal ehwalnya.
· Menziarahinya apabila ia sakit.
· Menerima undangannya bila ada sesuatu majlis kesyukuran atau keramaian.
· Cuba membantunya sedaya yang boleh bila mereka berada didalam kesusahan.
· Memaafkan setiap kesalahan dan kesilapan yang tidak disengajakan.
Tidak mudah percaya dengan kata-kata fitnah terhadapnya.
Tidak mudah percaya dengan kata-kata fitnah terhadapnya.
· Memberi nasihat dan tunjuk ajar dalam urusan agama mahupun dunia.
Sentiasa bercakap dengan lemah lembut.
Sentiasa bercakap dengan lemah lembut.
· Tidak menyinggung perasaannya dengan sesuatu perbuatan.
Adab Berbicara, Berdebat dan Mendengar Pendapat
Adab Berbicara
Rasulullah S.A.W bersabda, "Janganlah bercakap melebihi dari zikrullah. Sesungguhnya dengan banyak bercakap akan mengeraskan hati dan bila hatinya telah keras maka ia akan menjadi semakin jauh dari Allah".
1. Semua pembicaraan harus kebaikan, (QS 4/114, dan QS 23/3), dalam hadits nabi SAW disebutkan:
“Barangsiapa yang beriman pada Allah dan hari akhirat maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam.”
(HR Bukhari Muslim)
2. Berbicara mesti terang dan benar, sebagaimana dalam hadits Aisyah ra:
“Bahwasanya perkataan Rasulallah SAW itu selalu jelas sehingga boleh difahami oleh semua yang mendengar.”
2. Berbicara mesti terang dan benar, sebagaimana dalam hadits Aisyah ra:
“Bahwasanya perkataan Rasulallah SAW itu selalu jelas sehingga boleh difahami oleh semua yang mendengar.”
(HR Abu Daud)
3. Seimbang dan menjauhi berlarut-larutan, berdasarkan sabda nabi SAW:
“Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku nanti di hari Kiamat ialah orang yang banyak bercakap dan berlagak dalam berbicara.”
3. Seimbang dan menjauhi berlarut-larutan, berdasarkan sabda nabi SAW:
“Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku nanti di hari Kiamat ialah orang yang banyak bercakap dan berlagak dalam berbicara.”
Maka dikatakan: Wahai Rasulullah kami telah mengetahui arti ats-tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa makna al-mutafayhiqun? Maka jawab nabi SAW: “Orang2 yang sombong.”
(HR Tirmidzi dan dihasankannya)
4. Menghindari banyak berbicara, karena khuatir membosankan yang mendengar, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Wa’il:
Adalah Ibnu Mas’ud ra sentiasa mengajar kami setiap hari Khamis, maka berkata seorang lelaki: Wahai Abu Abdur Rahman (gelar Ibnu Mas’ud)! Seandainya anda mau mengajari kami setiap hari? Maka jawab Ibnu Mas’ud : Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku memenuhi keinginanmu, hanya aku khuatir membosankan kamu, kerana akupun pernah meminta yang demikian pada Nabi SAW dan beliau menjawab khuatir membosankan kami
4. Menghindari banyak berbicara, karena khuatir membosankan yang mendengar, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Wa’il:
Adalah Ibnu Mas’ud ra sentiasa mengajar kami setiap hari Khamis, maka berkata seorang lelaki: Wahai Abu Abdur Rahman (gelar Ibnu Mas’ud)! Seandainya anda mau mengajari kami setiap hari? Maka jawab Ibnu Mas’ud : Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku memenuhi keinginanmu, hanya aku khuatir membosankan kamu, kerana akupun pernah meminta yang demikian pada Nabi SAW dan beliau menjawab khuatir membosankan kami
(HR Muttafaq ‘alaih)
5. Mengulangi kata-kata yang penting jika dibutuhkan, dari Anas ra bahwa adalah nabi SAW jika berbicara maka beliau SAW mengulanginya 3 kali sehingga semua yang mendengarkannya menjadi faham, dan apabila beliau SAW mendatangi rumah seseorang maka beliau SAW pun mengucapkan salam 3 kali.
5. Mengulangi kata-kata yang penting jika dibutuhkan, dari Anas ra bahwa adalah nabi SAW jika berbicara maka beliau SAW mengulanginya 3 kali sehingga semua yang mendengarkannya menjadi faham, dan apabila beliau SAW mendatangi rumah seseorang maka beliau SAW pun mengucapkan salam 3 kali.
(HR Bukhari)
6. Menghindari mengucapkan yang bathil, berdasarkan hadits nabi SAW:
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diredhai ALLAH SWT yang ia tidak mengira yang akan mendapatkan demikian sehingga dicatat oleh Allah SWT keredhaan-Nya bagi orang tersebut sampai nanti hari Kiamat. Dan seorang lelaki mengucapkan satu kata yang dimurkai Allah SWT yang tidak dikiranya akan demikian, maka Allah SWT mencatatnya yang demikian itu sampai hari Kiamat.”
6. Menghindari mengucapkan yang bathil, berdasarkan hadits nabi SAW:
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diredhai ALLAH SWT yang ia tidak mengira yang akan mendapatkan demikian sehingga dicatat oleh Allah SWT keredhaan-Nya bagi orang tersebut sampai nanti hari Kiamat. Dan seorang lelaki mengucapkan satu kata yang dimurkai Allah SWT yang tidak dikiranya akan demikian, maka Allah SWT mencatatnya yang demikian itu sampai hari Kiamat.”
(HR Tirmidzi dan ia berkata hadits hasan shahih; juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah)
7. Menjauhi perdebatan sengit, berdasarkan hadits nabi SAW:
“Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapatkan hidayah untuk mereka, melainkan karena terlalu banyak berdebat.”
7. Menjauhi perdebatan sengit, berdasarkan hadits nabi SAW:
“Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapatkan hidayah untuk mereka, melainkan karena terlalu banyak berdebat.”
(HR Ahmad dan Tirmidzi)
Dan dalam hadits lain disebutkan sabda nabi SAW:
“Aku jamin rumah didasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah ditengah syurga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bergurau dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaknya.”
Dan dalam hadits lain disebutkan sabda nabi SAW:
“Aku jamin rumah didasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah ditengah syurga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bergurau dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaknya.”
(HR Abu Daud)
8. Menjauhi kata-kata keji, mencela, melaknat, berdasarkan hadits nabi SAW:
“Bukanlah seorang mu’min jika suka mencela, mela’nat dan berkata-kata keji.”
8. Menjauhi kata-kata keji, mencela, melaknat, berdasarkan hadits nabi SAW:
“Bukanlah seorang mu’min jika suka mencela, mela’nat dan berkata-kata keji.”
(HR Tirmidzi dengan sanad shahih)
9. Menghindari banyak canda, berdasarkan hadits nabi SAW:
“Sesungguhnya seburuk-buruk orang disisi Allah SWT di hari Kiamat kelak ialah orang yang suka membuat manusia tertawa.”
9. Menghindari banyak canda, berdasarkan hadits nabi SAW:
“Sesungguhnya seburuk-buruk orang disisi Allah SWT di hari Kiamat kelak ialah orang yang suka membuat manusia tertawa.”
(HR Bukhari)
10. Menghindari menceritakan aib orang dan saling memanggil dengan gelar yang buruk, berdasarkan QS 49/11, juga dalam hadits nabi SAW:
“Jika seorang menceritakan suatu hal padamu lalu ia pergi, maka ceritanya itu menjadi amanah bagimu untuk menjaganya.”
10. Menghindari menceritakan aib orang dan saling memanggil dengan gelar yang buruk, berdasarkan QS 49/11, juga dalam hadits nabi SAW:
“Jika seorang menceritakan suatu hal padamu lalu ia pergi, maka ceritanya itu menjadi amanah bagimu untuk menjaganya.”
HR Abu Daud dan Tirmidzi dan ia menghasankannya)
11. Menghindari dusta, berdasarkan hadits nabi SAW:
“Tanda-tanda munafik itu ada 3, jika ia bicara berdusta, jika ia berjanji mengingkari dan jika diberi amanah ia khianat.”
11. Menghindari dusta, berdasarkan hadits nabi SAW:
“Tanda-tanda munafik itu ada 3, jika ia bicara berdusta, jika ia berjanji mengingkari dan jika diberi amanah ia khianat.”
(HR Bukhari)
12. Menghindari ghibah dan mengadu domba, berdasarkan hadits nabi SAW:
“Janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling berkata-kata keji, dan janganlah kalian saling menghindari, dan janganlah kalian saling meng-ghibbah satu dengan yang lain, dan jadilah hamba-hamba ALLAH yang bersaudara.”
12. Menghindari ghibah dan mengadu domba, berdasarkan hadits nabi SAW:
“Janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling berkata-kata keji, dan janganlah kalian saling menghindari, dan janganlah kalian saling meng-ghibbah satu dengan yang lain, dan jadilah hamba-hamba ALLAH yang bersaudara.”
(HR Muttafaq ‘alaih)
13. Berhati-hati dan adil dalam memuji, berdasarkan hadits nabi SAW dari AbduRRAHMAN bin abi Bakrah dari bapaknya berkata:
Ada seorang yang memuji orang lain di depan orang tersebut, maka kata nabi SAW:
13. Berhati-hati dan adil dalam memuji, berdasarkan hadits nabi SAW dari AbduRRAHMAN bin abi Bakrah dari bapaknya berkata:
Ada seorang yang memuji orang lain di depan orang tersebut, maka kata nabi SAW:
“Celaka kamu, kamu telah mencelakakan saudaramu! Kamu telah mencelakakan saudaramu!” (2 kali), lalu kata beliau SAW: “Jika ada seseorang ingin memuji orang lain di depannya maka katakanlah: Cukuplah si fulan, semoga ALLAH mencukupkannya, kami tidak mensucikan seorangpun disisi ALLAH, lalu barulah katakan sesuai kenyataannya.”
(HR Muttafaq ‘alaih dan ini adalah lafzh Muslim)
Dan dari Mujahid dari Abu Ma’mar berkata: Berdiri seseorang memuji seorang pejabat di depan Miqdad bin Aswad secara berlebih-lebihan, maka Miqdad mengambil pasir dan menaburkannya di wajah orang itu, lalu berkata: Nabi SAW memerintahkan kami untuk menaburkan pasir di wajah orang yang gemar memuji.
Dan dari Mujahid dari Abu Ma’mar berkata: Berdiri seseorang memuji seorang pejabat di depan Miqdad bin Aswad secara berlebih-lebihan, maka Miqdad mengambil pasir dan menaburkannya di wajah orang itu, lalu berkata: Nabi SAW memerintahkan kami untuk menaburkan pasir di wajah orang yang gemar memuji.
(HR Muslim)
- · Bercakaplah dengan nada yang jelas tanpa ada rasa keraguan dan jangan bercakap dengan nada yang samar-samar
- · Bercakaplah di depan dengan cara bertentangan mata dan jangan bercakap di belakang, ini untuk mengelakkan timbulnya keraguan dan salah faham.
- · Jika seoarng sedang bercakap tentang sesuatu tajuk dan tajuk itu belum habis dibincangkan maka janganlah mengutarakan tajuk baru atau memotong perbualannya itu.
- · Jika seseorang sedang makan maka janganlah bercakap tentang sesuatu yang menjijikkan atau tentang sesuatu yang tidak disukai olehnya.
- · Jangan bercakap di depan orang yang sedang sakit tentang sesuatu yang mendukacitakan sebaliknya ucapkanlah tentang sesuatu yang memberangsangkan.
- · Jangan sesekali meniru gaya percakapan atau telor orang yang jahil dalam agama
- · Jangan bercakap secara berkumam mulut
- · Jangan bercakap mengenai hal orang lain, membuat fitnah serta mencaci-maki orang
- · Jangan memanggil orang yang lebih tua dari kita dengan panggilan nama, seeloknya pangillah dengan nama yang memuliakan mereka.
- · Jangan memanggil seseorang dengan gelaran yang tidak menyenangkannya
- · Jangan bercakap tentang sesuatu perkara yang anda sendiri masih kurang pasti mengenainya.
Adab Mendengar
1. Diam dan memperhatikan (QS 50/37)
2. Tidak memotong/memutus pembicaraan
3. Menghadapkan wajah pada pembicara dan tidak memalingkan wajah darinya sepanjang sesuai dengan syariat (bukan berbicara dengan lawan jenis)
4. Tidak menyela pembicaraan saudaranya walaupun ia sudah tahu, sepanjang bukan perkataan dosa.
5. Tidak merasa dalam hatinya bahwa ia lebih tahu dari yang berbicara
Adab Menolak Atau Tidak Setuju
1. Diam dan memperhatikan (QS 50/37)
2. Tidak memotong/memutus pembicaraan
3. Menghadapkan wajah pada pembicara dan tidak memalingkan wajah darinya sepanjang sesuai dengan syariat (bukan berbicara dengan lawan jenis)
4. Tidak menyela pembicaraan saudaranya walaupun ia sudah tahu, sepanjang bukan perkataan dosa.
5. Tidak merasa dalam hatinya bahwa ia lebih tahu dari yang berbicara
Adab Menolak Atau Tidak Setuju
1. Ikhlas dan menghindari sifat senang menjadi pusat perhatian
2. Menjauhi ingin tersohor dan terkenal
3. Penolakan harus tetap menghormati dan lembut serta tidak meninggikan suara
4. Penolakan harus penuh dengan dalil dan taujih
5. Menghindari terjadinya perdebatan sengit
6. Hendaknya dimulai dengan menyampaikan sisi benarnya lebih dulu sebelum mengomentari yang salah
7. Penolakan tidak bertentangan dengan syariat
8. Hal yang dibicarakan hendaknya merupakan hal yang penting dan dapat dilaksanakan dan bukan sesuatu yang belum terjadi
9. Ketika menolak hendaknya dengan memperhatikan tingkat ilmu lawan bicara, tidak berbicara di luar kemampuan lawan bicara yang dikuatirkan menjadi fitnah bagi diri dan agamanya
10. Saat menolak hendaknya menjaga hati dalam keadaan bersih, dan menghindari kebencian serta penyakit hati.
2. Menjauhi ingin tersohor dan terkenal
3. Penolakan harus tetap menghormati dan lembut serta tidak meninggikan suara
4. Penolakan harus penuh dengan dalil dan taujih
5. Menghindari terjadinya perdebatan sengit
6. Hendaknya dimulai dengan menyampaikan sisi benarnya lebih dulu sebelum mengomentari yang salah
7. Penolakan tidak bertentangan dengan syariat
8. Hal yang dibicarakan hendaknya merupakan hal yang penting dan dapat dilaksanakan dan bukan sesuatu yang belum terjadi
9. Ketika menolak hendaknya dengan memperhatikan tingkat ilmu lawan bicara, tidak berbicara di luar kemampuan lawan bicara yang dikuatirkan menjadi fitnah bagi diri dan agamanya
10. Saat menolak hendaknya menjaga hati dalam keadaan bersih, dan menghindari kebencian serta penyakit hati.
Adab Ketika Menghidang Makan Dan Minuman
- Mengelap pinggan mangkuk sebelum digunakan
- Menggunakan pinggan mangkuk yang berkeadaan baik dan bersih
- Menyusun hidangan dengan kemas
- Menyediakan hidangan yang cukup
- Menyediakan keperluan yang cukup seperti air basuh tangan, tuala atau tisu
Adab Orang Yang Menghidang Makanan Dan Minuman
- Menutup aurat
- Menyegerakan penyediaan makanan
- Menyediakan makanan yang terbaik
- Menyediakan makanan yang mencukupi
- Tidak mengangkat makanan sehingga selesai makan
- Sentiasa ceria semasa menghidang makanan
Faedah Menghidang Makanan Dan Minuman
- Dirahmati Allah
- Dipandang mulia dan disayangi
- Dihindarkan penyakit
- Ketenteraman hidup
- Kemas dan teratur
Akibat Tidak Menghidang Makanan Dan Minuman Menurut Syariat Islam
- Menjatuhkan maruah
- Dipandang rendah dan dibenci
- Mendapat penyakit
- Kehidupan tidak terurus
- Tiada berdisiplin
Selasa, 5 Julai 2011
Adab Berjanji
Adab Berjanji
Jangan sesekali membuat janji sekiranya anda telah berniat untuk tidak menunaikan janji itu.
Jangan berjanji untuk membuat perkara yang haram atau untuk melakukan sesuatu perkara yang boleh mendatangkan kemudaratan.
Jangan membuat janji sekiranya diri anda berada dalam keadaan tergesa-gesa.
Sekiranya anda telah membuat janji maka tunaikanlah janji itu dan jangan sesekali melanggari janji itu jika anda tiada alasan yang kukuh dan wajar.
Jika berjanji dengan anak-anak untuk memberinya sesuatu maka janji itu wajib ditunaikan.
Abdullah Ibn Amir meriwayatkan suatu masa semasa beliau masih kecil ibunya telah memanggilnya dan berjanji akan memberikannya sesuatu.
Rasulullah S.A.W yang kebetulan berada disitu terus bertanya,"Apa yang kamu niatkan untuk memberi kepadanya?" jawab Ibu Amir,"Sedikit tamar."
Sabda Rasulullah S.A.W, "Sekiranya kamu tidak memberikannya maka dosa berjanji dusta akan dicatatkan untukmu".
Ahad, 3 Julai 2011
Adab Di Masjid
Adab Di Masjid
Melangkah masuk ke dalam masjid dengan kaki kanan sambil membaca doa, tetapi ketika keluar melangkahlah dengan kaki kiri sambil membaca doa.
Sebelum duduk tunaikanlah solat sunat dua rakaat iaitu solat tahiyatul masjid.
Jangan menunaikan solat di tempat yang boleh mengganggu orang ramai untuk memasuki masjid seperti di muka pintu dan sebagainya.
Jangan berkeliaran di dalam masjid, ingatlah anda sedang berada di dalam istana Allah maka duduklah dengan penuh perasaan tawaduk dan sibukkan diri dengan banyak solat sunat dan berzikir.
Jangan meninggikan suara di dalam masjid sama ada berzikir atau membaca al-quran kerana ini akan mengganggu orang lain untuk beribadat.
Jangan berbual di dalam masjid mengenai hal-hal keduniaan.
Pakailah pakaian yang bersesuaian dan sopan tatkala memasuki masjid.
Jangan menggunakan masjid sebagai jalan pintas untuk menuju ke sesuatu tempat.
Jangan menyimpan atau membawa sesuatau yang berbau busuk masuk ke dalam masjid.
Jika anda telah memakan bawang maka janganlah terus masuk ke masjid kerana ini akan mengganggu orang lain. Seeloknya cucilah dahulu mulut atau ambillah wuduk demikian juga jika merokok.
Sunat memakai bau-bauan yang diharuskan semasa mendatangi masjid.
Jangan mengambil atau membawa pulang barang-barang kepunyaan masjid untuk kegunaan sendiri, segala peralatan masjid telah diwakafkan iaitu untuk kegunaan awam.
Melangkah masuk ke dalam masjid dengan kaki kanan sambil membaca doa, tetapi ketika keluar melangkahlah dengan kaki kiri sambil membaca doa.
Sebelum duduk tunaikanlah solat sunat dua rakaat iaitu solat tahiyatul masjid.
Jangan menunaikan solat di tempat yang boleh mengganggu orang ramai untuk memasuki masjid seperti di muka pintu dan sebagainya.
Jangan berkeliaran di dalam masjid, ingatlah anda sedang berada di dalam istana Allah maka duduklah dengan penuh perasaan tawaduk dan sibukkan diri dengan banyak solat sunat dan berzikir.
Jangan meninggikan suara di dalam masjid sama ada berzikir atau membaca al-quran kerana ini akan mengganggu orang lain untuk beribadat.
Jangan berbual di dalam masjid mengenai hal-hal keduniaan.
Pakailah pakaian yang bersesuaian dan sopan tatkala memasuki masjid.
Jangan menggunakan masjid sebagai jalan pintas untuk menuju ke sesuatu tempat.
Jangan menyimpan atau membawa sesuatau yang berbau busuk masuk ke dalam masjid.
Jika anda telah memakan bawang maka janganlah terus masuk ke masjid kerana ini akan mengganggu orang lain. Seeloknya cucilah dahulu mulut atau ambillah wuduk demikian juga jika merokok.
Sunat memakai bau-bauan yang diharuskan semasa mendatangi masjid.
Jangan mengambil atau membawa pulang barang-barang kepunyaan masjid untuk kegunaan sendiri, segala peralatan masjid telah diwakafkan iaitu untuk kegunaan awam.
Langgan:
Catatan (Atom)





