Selasa, 19 Julai 2011

Adab Membuang Hajat(Kencing/Buang Air Besar)

Buang hajat merupakan rutin semulajadi yang dilakukan oleh semua manusia. Alangkah baiknya kita mengetahui bagaimana agama memberikan bimbingan dalam masalah ini sehingga perbuatan yang bisa jadi dipandang ringan oleh banyak orang ini bisa memiliki nilai ibadah di sisi Allah.

Membuang hajat adalah perkara yang terlalu sering kita lakukan setiap harinya, namun sangat disayangkan banyak di antara kita yang tidak mengetahui adab-adab yang dituntunkan di dalamnya. Padahal syariat agama kita yang sempurna telah mengajarkan permasalahan ini. Pernah kaum musyrikin berkata kepada Salman Al Farisi radliallahu anhu: “Nabi kalian telah mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai pun perkara adab buang hajat”. Salman menjawab:
“Ya, beliau mengajarkan kami adab buang hajat”.
[Muslim]
Doa Sebelum Buang Hajat
Perkara awal yang perlu diperhatikan dari sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam masalah ini adalah ketika seseorang akan masuk ke tempat buang hajat (tandas dan semisalnya) hendaknya ia mengucapkan doa:

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari syaitan laki-laki dan syaitan perempuan”.
[Bukhari dan Muslim]

Karena tandas dan yang sepertinya merupakan tempat kotor yang dihuni oleh syaitan maka sepatutnya seorang hamba meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar ia tidak ditimpa oleh kejelekan makhluk tersebut.

Membaca doa ini merupakan adab yang disepakati istihbab-nya (disunnahkan) dan tidak ada perbedaan dalam hal ini antara buang hajat di tempat yang berupa bangunan ataupun di padang pasir.
Sementara apabila di padang pasir (tempat yang terbuka), maka doa ini dibaca tatkala hendak ditunaikannya hajat seperti ketika seseorang menyingkap pakaiannya. Hal ini merupakan pendapat jumhur ulama dan mereka mengatakan kalau seseorang lupa membaca doa ini maka ia membacanya dalam hati. 

Langkah Kaki Ketika Masuk dan Keluar Tandas

Telah diketahui bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyenangi mendahulukan bagian yang kanan dalam seluruh keadaan beliau.
(HR. Al Bukhari no. 168 dan Muslim no. 268).
Hadits di atas menunjukkan keumuman, namun khusus pada keadaan-keadaan tertentu dimulai dengan yang kiri, seperti apabila beliau masuk WC, keluar dari masjid dan yang semisalnya. Demikian dinyatakan Ibnu Daqiqil ‘Ied.
 (Syarah ‘Umdatil Ahkam, 1/44)

Al Imam AnNawawi berkata: “Merupakan kaedah yang berkesinambungan dalam syariat di mana tangan/kaki kanan didahulukan dalam melakukan perkara yang mulia seperti memakai pakaian, celana, sandal, masuk masjid, bersiwak, bercelak, menggunting kuku, mencukur kumis, menyisir rambut, mencabut bulu ketiak, mencukur rambut, salam ketika selesai shalat, mencuci anggota wudhu, keluar dari WC, makan, minum, berjabat tangan, menyentuh hajar aswad dan selainnya dari perkara yang semisal di atas. Semua itu disenangi untuk memulai dengan bagian kanan. Adapun lawan dari perkara di atas seperti masuk WC, keluar dari masjid, istinja, melepas pakaian, celana, sandal dan yang semisalnya disenangi untuk memulai dengan tangan/kaki kiri.”
(Syarah Shahih Muslim, 3/160, Al Majmu’, 2/95)

Menutup Diri

Abdullah bin Ja‘far berkata: “Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah memboncengkan aku di belakang beliau. Lalu beliau membisikkan kepadaku satu pembicaraan yang aku tidak akan memberitahukannya kepada seorangpun selama-lamanya. Adalah beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyenangi menjadikan tempat yang tinggi (berupa bangunan atau selainnya) dan kebun kurma sebagai tempat berlindung (menutup diri) ketika buang hajat”.
(HR. Muslim no. 342)

Al Imam Asy Syaukani rahimahullah berkata: “Hadits ini menunjukkan disenanginya menutup diri ketika seseorang sedang buang hajat dengan apa saja yang dapat mencegah/menghalangi pandangan orang terhadapnya ketika itu. Dan dimungkinkan buang hajat beliau di kebun kurma bukan pada saat kurma itu berbuah”. (Nailul Authar, 1/117)

Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam apabila hendak buang hajat, tidaklah mengangkat pakaiannya sampai beliau turun untuk jongkok di atas tanah. Hal ini beliau lakukan dalam rangka menjaga aurat.
(Zaadul Ma`ad, 1/44, Ad Dararil Mudhiyyah hal. 23)

Menjauh dari Pandangan Manusia

Berkata Ibnul Mundzir rahimahullah: “Khabar yang pasti dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwasanya bila ingin buang hajat beliau pergi ke tempat yang jauh dari penglihatan manusia, namun bila sekedar buang air kecil beliau tidak menjauh dari mereka”.
(Al Ausath, 1/321)

Hal ini sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pergi untuk membuang hajat hingga tersembunyi dari para shahabatnya. (HR. Al Bukhari no. 203 dan Muslim no. 274 dari Al Mughirah ibnu Syu`bah z).

Abdurrahman bin Abi Qurad radliallahu anhu berkata: “Aku pernah keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ke tempat buang hajat. Kebiasaan beliau ketika buang hajat adalah pergi menjauh dari manusia”.
(HR. An Nasa’i no. 16 dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Muqbil dalam Al Jami`ush Shahih, 1/495).

Saking menjauhnya beliau dari manusia sampai-sampai beliau pergi ke Mughammas (sebuah tempat yang jauhnya sekitar dua mil dari kota Makkah) untuk keperluan buang hajat ini.
(HR. Abu Ya‘la, 9/476 dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Muqbil dalam Al Jami‘ush Shahih, 1/495)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: “Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam apabila ingin buang hajat dalam safarnya pergi hingga tersembunyi dari pandangan para shahabatnya, dan terkadang beliau menjauh sampai 2 mil. Beliau menutup dirinya ketika buang hajat, terkadang dengan berlindung di balik tempat tinggi, terkadang di balik kebun kurma dan terkadang dengan pepohonan yang tumbuh di lembah”.
(Zaadul Ma`ad, 1/43)

Berbeda halnya ketika buang air kecil, sebagaimana dikatakan Ibnul Mundzir di atas, beliau tidak menjauh dari manusia. Bahkan Hudzaifah radliallahu anhu mengatakan: “Aku pernah berjalan-jalan bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau lalu mendatangi tempat pembuangan sampah yang terletak di belakang tembok. Beliau berdiri di situ sebagaimana salah seorang dari kalian berdiri lalu beliau buang air kecil. Aku pun menyingkir dari beliau namun beliau memberi isyarat kepadaku maka aku pun mendatanginya. Aku berdiri di belakang beliau hingga beliau selesai dari hajatnya”.
(HR. Al Bukhari no. 225 dan Muslim no. 273)

Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Ini menunjukkan beliau tidak menjauh dari Hudzaifah ketika buang air kecil.” Adapun sebab tidak menjauhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika buang air kecil dijelaskan oleh Al Hafidz: “Kencing lebih ringan daripada buang air besar karena buang air besar butuh untuk lebih membuka aurat dan bau yang ditimbulkan lebih menusuk. Sementara tujuan menjauh dari manusia adalah untuk menutup diri dari penglihatan mereka dan ini terpenuhi dengan membentangkan pakaian dan mendekat dengan sesuatu yang dapat menutupi”.
(Fathul Bari, 1/411)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam meminta Hudzaifah untuk mendekat kepada beliau agar Hudzaifah menutupi beliau dari pandangan manusia karena buang air kecil merupakan keadaan yang memalukan bila terlihat oleh orang lain.
(Syarah Shahih Muslim, 3/167)

Dengan demikian, dituntunkan kepada kita untuk menjauh dari manusia ketika buang air besar, sementara ketika buang air kecil boleh dilakukan di dekat orang lain, namun harus tetap memperhatikan tertutupnya aurat agar tidak terlihat orang lain.
(Al Jami‘ush Shahih, 1/496)

Tidak Memasukkan ke Tandas Sesuatu yang Padanya ada Dzikrullah

Seseorang yang buang hajat lebih utama baginya untuk tidak membawa sesuatu yang padanya tertera dzikir kepada Allah seperti Al Qur’an dan lainnya yang ada padanya penyebutan nama Allah. Dalam permasalahan ini dalil yang sering dibawakan adalah hadits peletakan cincin Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika akan masuk WC. Namun hadits ini lemah, ma`lul (berpenyakit) sebagaimana diterangkan oleh Ibnul Qayyim dalam Tahdzibus Sunan dan ulama ahli hadits yang lainnya.

Ketika membawakan hadits ini Imam Shan‘ani mengatakan dalam Subulus Salam (1/113): “Sesuatu yang di dalamnya tertera nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala harus dijaga dari tempat-tempat yang jelek/kotor. Dan ini tidak khusus berupa cincin saja namun mencakup semua benda yang dipakai yang padanya ada dzikrullah”.

Walaupun demikian sebagian ulama yang lain menganggap makruh (dibencinya) perkara ini, bahkan haram apabila yang dimasukkan itu berupa Al Qur’an, karena termasuk penghinaan. Penulis kitab Al Furu’ mengatakan: “Dibenci untuk membawa sesuatu yang padanya ada dzikrullah tanpa ada keperluan.”
(Al Furu`, 1/83)

Larangan Menghadap dan Membelakangi Kiblat

Abu Ayyub Al Anshari radliallahu anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

“Apabila kalian mendatangi tempat buang air maka janganlah kalian menghadap ke arah kiblat ketika buang air besar ataupun kencing dan jangan pula membelakangi kiblat, akan tetapi menghadaplah ke arah timur atau ke arah barat”.
(HR. Al Bukhari no. 394 dan Muslim no. 264)

Dari hadits di atas dipahami adanya larangan menghadap dan membelakangi kiblat ketika buang hajat. Namun dalam permasalahan ini ada perselisihan pendapat di kalangan ulama. Ada yang berpendapat perbuatan ini haram secara mutlak baik di tandas (tempat yang tertutup/berbentuk bangunan) ataupun di tempat terbuka. Ada yang membolehkan secara mutlak dan ada pula yang merinci. Perselisihan ini terjadi karena selain hadits larangan sebagaimana tercantum di atas didapatkan pula hadits lain yang menunjukkan kebolehannya seperti hadits Abdullah Ibnu Umar radliallahu anhu, ia berkata: “Aku pernah menaiki rumah Hafshah2 karena suatu keperluan, maka ketika itu aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam buang hajat menghadap ke arah Syam dan membelakangi Ka`bah”.
(HR. Al Bukhari no. 148 dan Muslim no. 266).

Demikian pula hadits Jabir bin Abdillah Al Anshari radliallahu anhu: “Sungguh beliau melarang kami untuk membelakangi dan menghadap kiblat dengan kemaluan-kemaluan kami apabila kami buang air. Kemudian aku melihat beliau kencing menghadap kiblat setahun sebelum meninggalnya”.
(HR. Ahmad 3/365 dan dihasankan oleh Asy Syaikh Muqbil dalam Al Jami`ush Shahih, 1/493)

Dari perselisihan yang ada, yang rajih (kuat) adalah pendapat yang merinci, bila di luar bangunan seperti di padang pasir haram untuk menghadap atau membelakangi kiblat, sementara di dalam bangunan tidaklah diharamkan. Ini adalah pendapat Imam Malik, Asy Syafi‘i, Ahmad, Ishaq, Asy Sya‘bi dan ini merupakan pendapat jumhur ahli ilmu. (Syarah Shahih Muslim 3/154, Syarah Sunan An Nasa’i lis Suyuthi 1/26)

Namun sepantasnya bagi seseorang untuk juga menghindar dari arah kiblat ketika buang hajat di dalam bangunan (WC dan semisalnya), dalam rangka berhati-hati dari hadits-hadits yang menunjukkan larangan akan hal ini dan karena adanya perselisihan yang kuat dalam permasalahan ini yang didukung oleh para ulama ahli tahqiq.
(Taisirul ‘Allam, 1/55)

Boleh Kencing Berdiri

Al Imam Al Bukhari rahimahullah ketika membawakan hadits Hudzaifah yang menerangkan Rasulullah kencing berdiri sebagaimana telah lewat di atas, beliau mengatakan dengan judul bab (Bolehnya) Kencing Berdiri dan Duduk. Sehingga difahami di sini bolehnya kencing dalam keadaan berdiri dan duduk, walaupun di sana terdapat perselisihan pendapat di kalangan ahli ilmu mengenai hal ini.

Didapatkan pula dari perbuatan sahabat seperti Ali bin Abi Thalib, ‘Umar ibnul Khaththab, Zaid bin Tsabit dan selainnya, mereka kencing dengan berdiri. Ini menunjukkan perbuatan ini dibolehkan dan tidak makruh apabila untuk jauh dari percikan air kencing. (‘Aunul Ma`bud, 1/29)

Berkata Ibnul Mundzir rahimahullah: “Sebagian ahlul ilmi menyenangi bagi orang yang kencing dalam keadaan duduk untuk menjauh dari manusia dan mereka memandang tidak apa-apa kencing di dekat orang lain bila dilakukan dengan berdiri. Karena kencing dalam keadaan berdiri lebih menjaga dubur dan lebih selamat dari percikan najis. Pendapat seperti ini diriwayatkan dari ‘Umar.” (Al Ausath, 1/322)


Adab Dalam Tandas

Tandas di sini ialah suatu tempat khas yang dibina dalam sesebuah
rumah atau bangunan yang pada kebiasaannya digunakan untuk
qadha hajat.

Tandas yang bersih, lebih-lebih lagi yang selesa, merupakan suatu
keperluan. Kerana itu tidak hairan jika sebilangan individu tidak
menggemari tandas awam, kerana menganggap ianya antara
tempat yang kotor, menjijikkan atau kurang menyenangkan.

Apapun gambaran yang dibayangkan terhadap tandas, ianya tidak
mengurangkan dan menjejaskan pandangan Islam terhadap
kepentingannya. Oleh kerana itu, telah digariskan beberapa adab
yang mudah untuk diamalkan ketika berada dalamnya, ketika
qadha hajat dan setelah selesai qadha hajat. Antaranya ialah:

1.  Ketika Berada Dalam Tandas

i. Tidak membawa sesuatu yang tertulis padanya perkataan yang
mulia seperti ayat-ayat al-Qur'an, bahkan sunat ditanggalkan. Ini
termasuklah lafzhul jalalah, asma’ul husna, nama nabi-nabi
sekalipun dia bukan Rasul, nama malaikat dan kesemua namanama
mulia; samada nama-nama yang dikhususkan untuk
seseorang yang mulia ataupun nama tersebut mempunyai
persamaan seperti ‘al-Aziz’; kerana nama ini digunakan untuk
asma’ul husna dan juga selainnya. Begitu juga ‘Ahmad’ yang
menunjukkan nama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi
wasallam dan juga untuk selainnya. Adapun jika nama tersebut
dimaksudkan secara umum, maka tidaklah makruh.
Ini berdasarkan kepada hadis Anas Radhiallahu ‘anhu, iaitu
perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
menanggalkan cincin Baginda yang telah diukir dengan
perkataan ‘Muhammad Rasul Allah’.

إَِذا دَخَ َ ل الْخَ َ لاءَ نَزَعَ خَاتِمَهُ كَا َ ن رَسُو ُ ل اللهِ
(رواه الترمذي)

Maksudnya:

“Bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwasallam apabila Baginda (hendak) masuk ke tandas Baginda menanggalkan cincin Baginda.”
(Hadis riwayat at-Tirmidzi)

Sekiranya seseorang itu terlupa atau tidak sempat untuk
menanggalkan cincin yang mengandungi perkataan mulia tadi,
maka hendaklah digenggam dengan telapak tangan atau
dimasukkan ke dalam serban dan seumpamanya
(disembunyikan atau ditutup). Perbuatan seperti ini adalah adab
yang dituntut.

Adapun membawa masuk mushaf ke dalam tandas tanpa
darurat, maka hukumnya adalah haram. Begitu juga dengan
cincin yang ada perkataan mulia yang dipakai pada tangan kiri
yang digunakan untuk beristinja’ (bercebok), kerana sudah pasti
akan terkena najis padanya.
ii. Jٍangan masuk tandas dengan kepala dan kaki yang terdedah
(tidak berlapik). Hadis mursal daripada Habib bin Shalih
Radhiallahu ‘anhu dia berkata:

إَِذا دَخَ َ ل اْلخَ َ لاءَ َلبِسَ حِ َ ذاءَهُ وَ َ غطَّى رَْأسَهُ َ كا َ ن رَسُو ُ ل اللهِ
(رواه البيهقي)

Maksudnya:

“Bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwasallam jika (hendak) masuk ke tandas, Baginda memakai alas kaki dan (juga) menutup kepala Baginda.”
(Hadis riwayat al-Baihaqi)

iii. Sunat mendahulukan kaki kiri apabila masuk tandas, sekalipun
bukan dengan tujuan untuk qadha hajat seperti menyimpan atau
mengambil barang.

iv. Sunat mendahulukan kaki kanan apabila keluar dari tandas atau
beredar dari tempat qadha hajat.

v. Sunat menyediakan air yang akan digunakan untuk beristinja’
(bercebok) lebih awal. (Jika tiada kemudahan paip air untuk
beristinja’).

vi. Sunat membaca doa sebelum masuk tandas sepertimana riwayat
daripada Anas Radhiallahu ‘anhu bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika hendak masuk tandas.
Baginda berdoa:

بِسْمِ اللهِ، َاللَّهُمَّ إِنِّي َأعُوُذ بِكَ مِنَ اْلخُبُثِ وَاْلخَبَائِثِ
(رواه البخاري ومسلم)

Maksudnya:

“Dengan nama Allah, Ya Allah sesungguhnya aku
berlindung kepadaMu dari syaitan khubtsi (lelaki) dan syaitan
khaba’its (perempuan).”
(Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)

vii. Sunat membaca doa setelah keluar dari tandas antaranya riwayat
daripada ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha dan Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwasallam telah mengucapkan:

ُ غ ْ فرَانَكَ َاْلحَمْدُ لِلهِ الَّذِي َأْ ذهَبَ عَنِّي ْالأََذى وَعَاَفانِي
(رواه ابن ماجه)

Maksudnya:

“Aku memohon keampunanMu. Segala puji bagi
Allah yang telah menghilangkan kesusahan (berak dan kencing)
daripadaku dan menjadikan aku sihat wal‘afiat.”
(Hadis riwayat Ibnu Majah)

Adapun perkataan ( ُ غفْرَانَكَ ) itu, maka sunat dibaca sebanyak 3
kali.

viii. Sunat mengangkat pakaian satu demi satu ketika hendak duduk
qadha hajat, melainkan jika ditakuti terkena najis maka
memadailah mengikut kadar yang sepatutnya. Begitu juga
setelah selesai qadha hajat, sunat menurunkan atau melepaskan
pakaian satu demi satu sebelum sempurna dia berdiri tegak.

ix. Makruh berlengah-lengah (duduk lama-lama tanpa keperluan)
dalam tandas.

x. Disunatkan untuk tidak makan dan minum.

xi. Haram menghadap atau membelakangi kiblat ketika qadha hajat
khususnya pada tempat yang luas atau terbuka dan tanpa ada
pendinding (yang boleh menutup aurat), kecuali jika tempat itu
berada dalam suatu bangunan atau binaan dan memang
disediakan sebagai tempat qadha hajat seperti tandas yang
dibina dalam rumah atau bangunan. Maka hukumnya adalah
dibolehkan; tidak haram dan tidak makruh dan tidak menyalahi
yang utama (khilaf al-awla).

Ini dapat difahami dari hadis yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah
bin ‘Umar Radhiallahu ‘anhuma dia berkata:

اِرْتََقيْتُ َفوْقَ َ ظهْرِ بَيْتِ حَ ْ فصََة لِبَعْضِ حَاجَتِي، َفرََأيْتُ رَسُو َ ل اللهِ
يَقضِي حَاجَتَهُ مُسْتَدْبِرَ اْلقِبَْلةِ مُسْتَْ قبِ َ ل الشَّامِ
(رواه البخاري)

Maksudnya:

“Aku naik ke atas rumah Hafshah untuk sesuatu hajat (pekerjaan), lalu aku melihat Rasulullah Shallallahu‘alaihi wasallam sedang qadha hajat (buang air besar), iaitu Baginda (dalam keadaan) membelakangi kiblat (dan) menghadap negeri Syam.”
(Hadis riwayat al-Bukhari)

Setelah qadha hajat, jika dia ingin berpindah ke tempat lain
untuk beristinja’ (bercebok), maka tiada haram atau makruh
untuk dia menghadap atau membelakangi kiblat.

Isnin, 18 Julai 2011

Amalan Masjid Atau Surau

Jika ditanya kepada saudara-saudara Islam, rata-rata umat Islam masih tidak berapa pasti apakah itu 4 amal asas masjid.
 
4 amal masjid itu adalah amalan-amalan orang Islam yang telah wujud di Masjid Nabawi pada zaman Baginda Nabi Muhammad SAW.
Kelima-lima amal tersebut adalah ASAS kepada 4 amalan besar dalam agama iaitu:

1.    Dakwah
2.    Taalim wa Taalum (Belajar dan Mengajar)
3.    Ibadat
4.    Khidmat

Apabila ada keempat-empat amalan diatas, maka hiduplah masjid atau surau itu. Ada orang yang berdakwah. Ada yang belajar dan mengajar. Ada yamg beribadah. Dan ada yang berkhidmat di masjid/surau tersebut. Tanpanya matilah masjid/surau itu.